Tulisan Namru, Trojan Imperalisme (Republika, 07/05) menyadarkan betapa penjajahan mutakhir berwajah intelektual tanpa disadari telah mencengkeram seluruh sendi kehidupan. Tulisan tersebut juga mengingatkan betapa pentingnya menganyam persatuan dan kesadaran politik seluruh penghuni negeri ini terutama para pemimpin yang mengemban amanah menata masa depan Indonesia dalam keniscayaan pergulatan politik dan ideologi berbagai bangsa di dunia.
AS memang tampak sangat berkepentingan dengan berlanjutnya NAMRU-2. Setelah ditolak berbagai pihak, Dubes Cameron Hume dan Direktur NAMRU-2 Trevor Jones menemui Ketua DPR dan dijawab dengan pengajuan syarat agar Namru dirundingkan secara khusus dengan Angkatan Laut Indonesia. Masalahnya, pembahasan Namru tidak bisa begitu saja dilepaskan dari rencana kontemporer pertahanan AS dan implikasinya bagi Indonesia.
Strategi Biodefense AS
Quadrennial Defense Review Report (QDR) yang dikeluarkan Dephan AS pada 2006 mengungkapkan arah kebijakan kontemporer pertahanan AS untuk memelihara kepentingan globalnya sesuai platform politik dan ideologinya. Didalamnya disebutkan bahwa AS tetap bertekad melakukan peperangan tanpa batas dengan musuh yang disebut sebagai jaringan teroris global. Jaringan ini disebut AS mengeksploitir Islam untuk mencapai tujuan-tujuan politik radikal dan bermaksud menguasai nuklir dan senjata biologis.
Untuk menghancurkannya, AS berupaya lebih proaktif menerjunkan misi militernya ke berbagai wilayah di luar Irak dan Afganistan. Demi mewujudkan efektifitas dan kapabilitas misi tersebut maka formasi kesatuan ekspedisi maritim dan udara secara terpadu yang bertumpu pada human intelligent, persistent surveillance dan persenjataan mutakhir menjadi pilihan. Basis data, kecepatan dan ketepatan informasi menjadi kunci keberhasilan misi ini. Karenanya, disebutkan dalam laporan tersebut bahwa sistem pertahanan AS perlu bertransformasi dari an emphasis on ships, guns, tanks and planes – to focus on information, knowledge and timely, actionable intelligence.
Disinilah posisi strategis jaringan badan riset AS diperlukan, termasuk didalamnya Namru, yakni sebagai penyedia basis data dan informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan misi-misi militer AS.
Adapun bagaimana data riset berbagai penyakit dimanfaatkan, hal ini terungkap dari Biodefense for the21st century –blueprint strategi AS mendayagunakan seluruh kekuatan keamanan, medis, kesehatan publik, intelijen, diplomat dan berbagai komunitas untuk menciptakan sistem pertahanan masa depan. AS secara serius mempersiapkan militernya dengan pertahanan senjata kimia dan biologi dengan alasan antisipasi memerangi penggunaan senjata pemusnah massal (Weapon Mass Destruction/WMD). Strategi AS ini meliputi integrasi kehandalannya dalam bioteknologi, nanoteknologi, teknologi informasi dan cognitive sciences.
Riset senjata biologi bukan isapan jempol seiring upaya AS mengimplementasikan strategi biodefense melalui program pertahanan kimia dan biologi (Chemical Biological Defense Program/ CBDP). Tahun 2006, pemerintah AS mendanai CBDP lebih dari 1.5 miliar US dolar selama 5 tahun untuk pengembangan medical countermeasure berspektrum luas dalam rangka melawan ancaman bioteror, termasuk bakteri patogen intraseluler hasil rekayasa genetika dan ancaman hemorrhagic fevers (ebola).
CBDP mengkoordinasikan seluruh aktivitas antar agensi diantaranya dengan Center for Disease Control (CDC) dan National Institute of Allergies and Infectious Diseases (NIAID), dua organisasi yang selama ini berkolaborasi dengan NAMRU-2. NIAID diketahui selama ini mendukung proyek riset ekstramural anti AIDS dari organisme laut di Indonesia serta berkolaborasi dan mendanai NAMRU-2 dalam riset resistensi Plasmodium falciparum terhadap kloroquin.
Transformational Medical Technologies Initiative (TMTI) tahun 2007 melaporkan beberapa program riset biodefense AS yang sedang berlangsung diantaranya meliputi perkembangan database toksin, pengembangan antibodi monoklonal dan vaksin terapi untuk ebola (Viral Haemorragic Fever/VHF), pustaka gen-gen makrofage tularemia (Francisella tularensis), konstruksi interaktome plague (Yersinia pestis) dan pustaka molekul-molekul induser pertahanan manusia terhadap bakteri-bakteri intraseluler. Strategi Biodefense AS dan lekatnya citra AS dengan imperalisme dan kolonialisme telah meningkatkan kekhawatiran semakin berkembangnya ancaman bioteror dan meluasnya tragedi kemanusiaan.
Agenda Asia Pasifik
Riset untuk Kongres AS 4 April 2006 berjudul China-Southeast Asia Relations: Trends, Issues, and Implications for the United States menyebutkan, kendati fokus utama AS di Asia Tenggara adalah perang melawan teror, perkembangan Cina saat ini dapat dianggap mengancam hegemoni AS di wilayah ini. Review RAND Vol 31 No 1 April tahun 2007 bertajuk Keeping The Pasific bahkan menyarankan beberapa strategi untuk meningkatkan kemampuan militer AS di Pasifik, mencegah dan bila diperlukan melawan serangan Cina terhadap Taiwan. AS sangat berkepentingan terhadap akses kepulauan Indonesia, Samudera Hindia dan Laut Cina Selatan. AS juga berkepentingan terhadap stabilitas regional, perluasan perdagangan bebas dan agenda demokratisasi di wilayah ini. Menguatnya ekonomi dan militer Cina, persaingan energi antara Cina dan AS tentu sangat mengancam posisi AS. Karenanya AS menggalang partner strategis melalui penguatan hubungan bilateral maupun regionaluntuk kembali memperkuat armada ekonomi, politik dan militernya.
Hal inilah yang tampak dari kunjungan bebrapa pejabat Dephan AS. Michael O leavit dalam kunjungannya keIndonesia menyatakan bahwa NAMRU-2 hanyalah satu bahasan terkait perluasan hubungan Indonesia-AS yang lebig produktif (Jakarta Post, 17/04/08). Sekretaris Pertahanan AS, Robert Gates yang berkunjung pula bahkan menyatakan bahwa AS siap membantu memperkuat kapabilitas angkatan udara dan maritim Indonesia. AS juga siap berkontribusi melanjutkan reformasi militer dan membantu memetakan masa depan Indonesia (Jakarta Post, 18/04/08). Keseriusan AS ini juga tampak seiring dengan strategi militernya yang ditopang oleh peningkatan anggaran Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS tahun 2008-2009.
Bila AS sangat serius menempatkan seluruh sistem pendukungnya di berbagai wilayah untuk dapat memasuki pertahanan negara lain, TNI Angkatan Laut kita justru kesulitan mengambankan wilayah perairan kita sendiri. Padahal dengan luas laut mencapai empat kali luas daratan, menjaga harta maritim yang berlimpah dan keselamatan para penghuninya bukan hal yang mudah, terlebih bila dikaitkan dengan agenda-agenda AS di Asia Pasifik.
Karenanya mengundang kerjasama NAMRU- TNI AL adalah pengabaian terhadap kepentingan strategis negeri ini. Kerjasama ini berpotensi melapangkan misi-misi eksploitatif imperalistik di tanah air. Kerjasama tersebut juga menyeret Indonesia terlibat dalam perluasan ancaman bioteror yang tidak hanya membahayakan keselamatan bangsa tetapi juga seluruh umat manusia.